Magis Rintik Hujan

Hari ini kembali hujan. Taburan desau gemuruhnya bagai desahan dan erangan yang menusuk. Bunyi Rintikan yang dihasilkan hujan ketika menjamah atap kamarku seperti kekuatan magis. Menyihirku dan Memesona. Hingga aku tersedot ke dunia yang hanya ada di fantasi kehangatan selimut tebal.

 

***

 

Terlihat setitik cahaya. Yah, hanya setitik di ujung sana. Begitu nyata seakan memanggil jiwaku. Aku sekuat tenaga berlari ke arahnya. Namun, cahaya itu bukannya semakin dekat, malah terasa menjauh. Perlahan cahaya itu meredup. Redup dan terus redup. Mengabur. Menyatu dengan hitam.

 

Aku tersesat. Semua gelap. Cahaya yang kupikir sebagai tuntunan menuju terang, tenyata menghilang. Meninggalkanku dalam arah tak jelas. Aku berteriak. Memanggil sesuatu yang bisa membawaku dari tempat yang tidak kukenal ini. Tapi tak kunjung ada jawaban. Lantas aku tak menyerah. Aku meraba. Sejengkal demi sejengkal.

Dan tiba-tiba aku terasa ditarik. Tersedot. Tubuhku menggeliat terasa digilas. Sakit antara sadar dan tidak. Dan semuanya menghilang perasaanku.

 

***

 

Suara angin membekap pendengaranku. Bau asin lautan tercium kental. Kicau burung memekik berpacu dengan hempasan air. Di bawah tubuhku terasa sesuatu yang licin dan lengket.

 

Mataku terbuka perlahan-lahan. Perutku terasa mual mencium bau yang asing ini. Sekejap ribuan cahaya menyerbu masuk pupilku. Aku menutup mata dengan telapak tangan, belum siap atas serangan dadakan itu. Setelah terasa terbiasa, kuturunkan telapak tangan itu dari mataku. Seketika sadarlah di mana aku sekarang berada. Di atas sebuah batu karang berlumut, tepi pantai berpasir putih.

 

Aku bangkit melihat sekeliling. Ekor mataku mengedar mengamati. Tatapanku berhenti ketika menangkap sesuatu yang indah dan berkilau. Sebuah istana pasir putih mengagumkan.

 

Kakiku berlari hendak mencapai istana itu. Ada sesuatu kekuatan yang menarik aku agar secepatnya melangkah. Hingga saat istana itu tepat berada di hadapanku. Terlihatlah sepasang merpati putih. Satu ekor tertunduk sedangkan yang satu tergeletak kaku.

 

“Mengapa merpati yang satunya kaku?” Pertanyaan itu tiba-tiba melesat dari ujung lidahku.

 

“Istriku itu telah pergi. Menemui penciptanya” jawab merpati tetap tertunduk.

 

“Lalu apa yang kamu lakukan di sini wahai merpati?”

 

“Ini istana kami. Kami membangunnya

sebagai tanda cinta. Dan aku telah berjanji akan menemaninya di istana ini. Sampai pencipta mengajakku juga bertemu dengannya. Menghadiahkan prasasti cinta abadi”

 

Aku tercenung, ketika bibirku baru saja hendak berkata lagi. Tiba-tiba ombak menjulang di belakangku. Menghempaskan diri menimbun tubuhku. Aku tergulung. Terseret jauh. Ribuan liter air asin melesat memasuki tengorokan. Memenuhi paru-paru dan otakku. Aku terseret semakin dalam dan lemas. Akhirnya pandanganku mengabur meninggalkan rumput lautan di hadapan.

 

***

Hari ini hujan. Taburan desau gemuruhnya bagaikan desahan dan erangan yang menusuk. Rintikannya seperti magis. Menyihirku.

 

Mataku nyalang. Kudapati diriku di dalam selimut tebal. Bau ini, yah bau pewangi ruangan kamarku.

 

Di luar taburan hujan masih bergemuruh. Dan rintikannya bagaikan magis. Menyihirku. Hingga aku terserat dalam dua dunia yang baru.

 

Aku bangkit menuju jendela. Gelap telah menyelimuti. Sekali lagi, rintikan itu mengandung magis. Menyihirku. Memesona hingga aku mencintainya.

 

 

kamar sempit di bawah guyuran hujan.

20 september 2011, 16:08.

Ukiran Tinta

Iklan

Pantai dan Laut Masa Laluku

Angin mengelitik lembut kulitku. Kicauan camar memekak berpadu dengan deburan ombak mengempas terjalnya batu karang. Nyiur meliuk mengikuti aliran angin berhembus. Di kejauhan terlihat hamparan laut berwarna biru cerah. Aku semakin cepat melangkahkan kaki. Tak sabar menikmati keindahan pantai, tempat bermainku ketika kanak dulu.

 

***

Kakiku memapaki papan demi papan yang menjadi lantai darmaga. Papan darmaga ini telah terlihat usang dan lapuk. Berbeda dengan darmaga masa itu. Darmaga ini ternyata sudah tua. Pantasan saja sekarang dikenal dengan nama DARMAGA TUA.

Aku semakin jauh memapaki papan darmaga. Sampai akhirnya aku berada di ujung. Di hadapanku, beberapa kapal besar terdapar di darmaga. Rantai-rantai jangkar kokoh terlihat menahan kapal biar tidak hanyut. Dua buah sekoci tergantung di setiap sisi badan kapal. Ratusan buruh angkut dan para penumpang terlihat sibuk keluar masuk kapal.

Aku teringat rutinitasku ketika masih sekolah. Dulu, setiap habis pulang sekolah aku selalu datang kemari. Bekerja sebagai buruh angkut. Ini aku lakukan untuk menambah uang keperluan sekolah dan uang jajan. Bukan hanya aku, tapi puluhan anak seusiaku juga bekerja di darmaga ini. Mereka juga punya keperluan yang sama denganku.

Aku tersenyum mengingat semua itu. Sekarang tidak ada lagi terlihat anak-anak yang jadi buruh angkut. Syukurlah, mereka tak bernasib sama sepertiku dan anak seangkatanku.

Setelah puas melihat keramaian itu, aku kembali melangkahkan kaki ke arah yang lain. Mencari keindahan lainnya. Mengulang memori masa lalu.

 

***

Sekarang kakiku menjejaki hamparan pasir putih. Pasir di pantai ini masih lembut. Sangat nyaman menyentuh telapak kaki. Tenyata pantai dan laut masa laluku tak banyak berubah. Masih indah seperti masa kanakku.

Pasir inilah yang selalu jadi mainanku bersama sahabat kecilku tempo dulu. Ketika ambang sore mulai menggantung di kaki langit. Dan matahari mulai menukik ke sisi lain belahan dunia, terlihat tergelam di lautan. Aku dan sahabatku bergembira membangun istana dari pasir. Walau akhirnya istana itu hancur lebur tak berbentuk digulung ombak yg datang. Kami tak pernah malas untuk membangunnya kembali. Karena hanya pasir inilah satu-satu mainan bagi kami untuk melepas penat setelah bekerja sebagai buruh angkut.

Setelah puas bermain pasir, terkadang kami juga bermain kejaran bersama ombak, atau berenang sambil berburu ikan di lautan yang dangkal.

Ahhh. , betapa indahnya masa lalu. Semua terasa lepas, tak ada beban. Tak perlu malu menjaga sikap. Aku merindukan masa laluku. Yah, masa kanakku di pantai dan laut indahku.

“Hai pemuda” sebuah suara menelusup di liang pendengaranku, mengusik semua lamunan masa laluku.

Aku menoleh, dan mendapati seorang gadis, berpakaian seperti gadis desa lainnya tengah berada di atas perahu layar kecil. Gadis itu menatap sambil tersenyum ramah kepadaku.

“Yah, ada apa?” tanyaku heran karena aku tidak mengenal gadis itu.

“Bisakah kau menolongku membuka layar perahuku?” pintanya lembut.

Aku tak menjawab. Sebagai jawaban permintaannya, aku memasuki air dan mendekat ke perahunya. Dengan cekatan, dibantu gadis itu. Aku membentang layar.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Layarpun terkembang dan perahu berlayar ke tengah lautan. Aku terpaku bingung karena angin ini terasa aneh.

“Angin apa ini?” tanyaku dengan kening berkerut.

“Inilah yang disebut angin utara” si gadis menjawab sambil menatap ke hamparan lautan.

“Tolong kembalikan aku ke pantai” pintaku.

“Tidak bisa, angin ini telah meminta kita menuju suatu tempat.”

“Kemana? Aku harus kembali ke pantai.”

“Ke tonggak-tonggak batas waktu. Menjemput suratan takdir. Takdirku dan takdirmu” gadis itu menatap jauh ke dalam mataku.

Aku semakin bingung tak mengerti. Aku menolehkan pandangan ke batas pantai. Semua telah mengabur ditelan kabut . Parahu kami semakin menjauh ketengah. Menghadang lautan.

Tiba-tiba ombak besar menghantam perahu, membuat tubuhku oleng. Aku kehilangan keseimbangan. Dan jatuh ke dalam lautan yang mengamuk.

Tanganku menggapai-gapai. Meminta pertolongan. Tapi tak ada tangan yang terjulur. Aku lemas. Mataku kabur dan semua menjadi gelap.

 

***

Aku terbangun dengan tubuh yang basah. Ku lihat sekeliling, aku berada di atas ranjang di ruangan yang sangat ku kenal. Yah, ini kamar kostku. Jadi tadi itu hanya sebuah mimpi. Mimpi indah sekaligus menyeramkan. Mimpi di tempat yang sangat ingin kudatangi. Pantai dan laut masa laluku.

 

 

Pondok lusuh, pinggir kota Pekanbaru.

21 September 2011, 14:56

Ukiran Tinta … continue reading this entry.

Duniaku dan Keluarga Debu

Desahan demi desahan menggema di ruangan remang ini. Terkadang sesekali terdengar pekikan dan rintihan mengundang syahwat. Menggebu saling berpautan. Tak hanya satu suara, tapi dua. Suara yang memiliki elemen yang berbeda.

Aku tengkurap di lantai kasar. Di sini kotor, namun terasa nyaman. Meskipun terkadang ada hawa dingin yang membuatku menggigil. Namun inilah duniaku. Tempat terindah bagiku.

Di atasku desahan itu masih berlanjut. Duniaku terasa berguncang. Menimbulkan bunyi sesuatu yang bergetar. Apa yang sedang mereka lakukan di atas? Ahh… Aku tidak peduli.

Aku memejamkan mata. Aku ingin pulang ke rumah keluarga debuku. Menemui ibu yang selalu baik kepadaku. Ibu yang selalu menyanyikan lagu dan membacakan cerita untukku. Ibu yang aku panggil dengan sebutan ibu Bubu.

Aku semakin merapatkan mataku. Tak peduli akan suara yang berkoar di atasku. Aku ingin cepat pulang. Menemui saudara debuku. Bermain dan bercanda. Berbagi cerita hingga akhirnya tertidur bersama.

Aku memejamkan mata. Dan suara di atasku pun mulai samar.

***

“Hai, kamu baru datang” sapa bubu ketika membuka pintu rumah. Bubu adalah nama saudara debuku.

“Iya, orang yang ada di atasku malam ini begitu ribut. Aku jadi susah pulang kemari.” jelasku sambil memasuki rumah. “Ibu Bubu mana?”

“Ibu di dapur. Membuat kue untukmu.”

“Kebetulan, aku sudah sangat lapar.”

aku melangkah ke dapur. Cuping hidungku telah mengendus aroma yang menggugah selera.

“Ibu Bubu, aku pulang.” teriakku nyaring. Aku merasa takjub. Yah, tempat ini membuat suaraku terdengar jelas. Padahal kalau di tempat lain hanya seperti desisan.

“Kamu sudah pulang nak? Sini makan malam, kebetulan kuenya baru masak.” ajak ibu Bubu sambil meletakkan beberapa potong kue di atas piring dan menyeduhkan secangkir teh kepadaku. Aku segara mencomot sepotong kue debu.

“Kuenya enak bu.” pujiku disela mulutku mengunyah. Aku tersedak, dengan cepat ibu Bubu segara menyerahkan teh yang telah diseduhnya tadi kepadaku.
“Kalau makan jangan bicara” nasihat ibu sambil menepuk punggungku.

Bubu memasuki dapur, dia mengambil sepotong kue, dan duduk di sebelahku.

“Ibumu tidak marah kamu bermalam disini lagi?” tanya Bubu sambil mengigit kuenya.

Aku menggeleng.
“Ibu sedang bekerja. Tadi kelihatannya ada klien lagi. Dari suaranya seperti klien baru.” jelasku.

“Lagipula, aku lebih senang di sini” lanjutku.

“Mengapa kamu suka di sini. Rumah ibu ini kan kotor” Ibu Bubu menatapku.

“Di sini aku punya teman bicara. Sedangkan di luar sana tidak ada yang mau bicara kepadaku, Tidak ada yang mengerti perkataanku. Lagipula di sini suaraku juga terdengar jelas.” jawabku mantap.

“Oh begitu. Ya sudah, cepat di makan kuenya. Terus lekas tidur” perintah bu Bubu sambil bangkit dari tempat duduknya menuju tempat pencuci piring.

“Baik bu.” jawab kami serempak.

Kami segera menghabiskan kue. Setelah habis, kami beranjak menuju kamar Bubu. Dan malam ini aku kembali tidur di rumah keluarga debu.

***

Aku terbangun dan merasakan sesuatu menarikku. Aku teseret dan seketika mataku terasa silau dipenuhi cahaya. Aku melihat ke sekeliling. Aku telah berada di rumah. Tapi mengapa ada begitu banyak pria berseragam coklat di rumahku. Siapa mereka? Ada perlu apa mereka di rumahku.

“Lapor komandan. Saya menemakan anak ini di bawah kolong tempat tidur. Mungkin dia anak wanita PSK yang dibunuh itu.” ucap seseorang yang tadi menarikku.

Beberapa pasang mata menatap ke arahku. Dan seorang pria tua mendekat kepadaku.

“Siapa namamu nak?” tanyanya.

Dengan gugup kucoba menyebutkan namaku. Namun tak ada kata yang keluar dari bibirku kecuali desisan. Suaraku kembali lenyap seperti biasanya.

“Ternyata dia bisu. Bawa dia keluar dan nanti kita titipkan di panti asuhan.” ucap pria itu kepada pria yang memegangiku.

Pria yang memegangiku berusaha membawaku. Aku merasa takut. Aku memberontak. Melepaskan tangan kokoh yang semakin kuat memegangku.

Aku mencari dimana ibuku. Meminta ibu untuk menolongku dari pria-pria berseragam ini. Tenyata ibu ada di atas ranjang, tidur terlentang tanpa baju. Tapi dia tidak sendiri, di sebelahnya terlentang juga seorang pria. Pria itu juga telanjang. Tubuh mereka kaku dan berlepotan dengan cairan kental berwarna merah yang telah menghitam.

Aku semakin memberontak. Usahaku berhasil, tangan pria itu terlepas. Aku segera berlari, namun bukan ke arah ibuku. Tapi ke arah suatu tempat di bawah tempat ibuku terlentang. Ke kolong ranjang. Aku ingin ke rumah debuku. Menemui ibu Bubu. Menceritakan semua ini dan meminta pertolongan kepadanya. Agar aku bisa terlepas dari pria-pria berseragam itu.

Aku memanggil ibu Bubu dan juga Bubu. Namun tak ada jawaban. Sementara tangan itu mulai menjangkauku. Menarikku keluar.

Akhirnya aku tertarik juga keluar oleh tangan kokoh itu. Aku dibawa paksa dalam usaha berontakku. Puluhan pasang mata itu hanya menatap iba kepadaku.

 

 

Kolong tempat tidur dikamar usang.
22 Septerber 2011, 20:22.

Ukurian Tinta